Pages

  • Home
  • Contact
  • Shop
  • Shop
  • Shop

Edukasi Tulungagung


  •                 Sumber: www.malang-post.com

    Presiden Jokowi resmi menunjuk Prof. Dr. Muhadjir Efendi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudaayaan menggantikan Anies Baswedan, Ph.D. Prof. Muhadjir yang diketahui sebagai tokoh politik Muhammadiyah ini menjadi rektor kelima Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai tahun 2000.

    Prof. Muhadjir lahir di Madiun, 29 Juli 1956, anak ke-6 dari 9 bersaudara dari seorang ayah Soeroja dan ibu Sri Soebita. Ayah beliau dikenal sebagai seorang guru dan kepala sekolah yang di kemudian hari menekuni dunia kesenian wayang sebagai dalang dan pembuat wayang kulit. Sang ayah juga merupakan aktivis Partai Masyumi yang Sukarnois. Prof. Muhadjir menikah dengan Suryan Widati, SE., MSA., Ak. (dosen Polteknik Negeri Malang) dan kini dikaruniai tiga orang putra Muktam Roya Azidan (lahir 9 Maret 2005), Senoshaumi Hably (lahir 9 Oktober 2006) dan Harbyanto Ken Najjar lahir (lahir 20 Mei 2012).

    Setelah menempuh pendidikan formal mulai SD hingga PGAN 6 tahun di daerah asalnya, Prof. Muhadjir kemudian melanjutkan kuliah di IAIN Malang dan memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) tahun 1978. Selanjutnya beliau menyelesaikan studi dan memperoleh gelar sarjana di IKIP Negeri Malang (sekarang Universitas Negeri Malang (UM)) tahun 1982. Pendidikan S2 diselesaikan di Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan memperoleh gelar MagisterAdministrasi Publik (MAP) tahun 1996. Tahun 2008, Prof. Muhadjir berhasil menyelesaikan pendidikan S3 pada Jurusan Ilmu-ilmu Sosial dan memperoleh gelar doktor bidang sosiologi militer di Program DoktorUniversitas Airlangga. Selain pendidikan formal, beliau juga beberapa kali mengikuti kursus di luar negeri, antara lain di National Defence University, Washington DC (1993) dan di Victoria University, British Columbia, Canada (1991).

    Semasa kuliah, Prof. Muhadjir menekuni profesi sebagai wartawan di beberapa koran, antara lain: Komunikasi (koran kampus IKIP Malang) sejak tahun 1982, koran Bestari UMM (1986), majalah Semesta Surabaya (1979-1980), koran Warta Mahasiswa (Dirjen Dikti) 1978-1982, koran Mimbar Universitas Brawijaya (1978-1980), dan Mingguan Mahasiswa (Surabaya) pada tahun 1978. Hingga sekarang, beliau masih aktif menulis berbagai artikel di beberapa koran lokal, regional. Dan karena kepiawainnya, beliau juga menjabat Dewan Penasehat Asosiasi Wartawan Indonesia wilayah Malang Raya, Jawa Timur. Prof. Muhadjir juga sudah menulis banyak buku, antara lain: Dunia Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan bersama Prof. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. (1989), Bunga Rampai Pendidikan (1992), Masyarakat Ekuilibrium: Meniti Perubahan dalam Bingkai Keseimbangan (2002), Pedagogi Kemanusiaan: Sebuah Refleksi (2004), Profesionalisme Militer: Profesionalisme TNI (2008), dan lain-lain. Pada buku terakhirnya ini, Prof. Muhadjir menguraikan tentang profesionalisme militer, khususnya TNI, setelah era reformasi.

    Bagi orang yang pernah bertemu Prof. Muhadjir, intonasi suara beliau sangat jelas. Suara beliau ini juga cukup merdu. Beliau merupakan seorang qari’ yang bagus. Baik suara, bacaan, hingga hafalan beliau. Seperti yang terlihat dalam acara pembukaan sidang Tanwir Muhammadiyah di Samarinda tahun 2014 silam.

    Di dunia akademik, Prof. Muhadjir dikenal sebagai seorang sosiolog yang ahli di bidang militer, sekaligus sebagai intelektual muslim. Prof. Muhadjir memulai karier dari jenjang terendah, yakni karyawan honorer di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selanjutnya, beliau diberi kesempatan mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Beliau pernah menduduki jabatan sebagai rektor di UMM sebanyak tiga kali. Prof. Muhadjir menjabat sebagai rektor pada periode 2000-2004, 2004-2008, dan periode 2008-Februari 2016. Sebelum diangkat menjadi rektor, beliau dipercaya sebagai Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan (1987-1955). Pada periode 1996-2000, beliau juga pernah menjabat Pembantu Rektor I di bidang akademik.

    Selama beliau menjadi rektor UMM, prestasi UMM tiada pernah sepi, diantaranya: 50 perguruan tinggi terbaik di Indonesia (versi Dikti), rangking tujuh perguruan tinggi di Indonesia versi Globe Asia Magazine (2007), menjadi salah satu universitas dari 20 promosing universitas versi Ditjen Dikti (2008), masuk ke dalam rangking 20 besar universitas di Indonesia versi Webomatric (2010). Gaya kepemimpinan beliau yang out of the box, melahirkan sejumlah karya besar. Dibawah kepemimpinan beliau, UMM maju pesat hingga menjadi trend kampus lain. UMM kini menjadi salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) ternama di Indonesia. Bahkan, perkembangan PTS ini cukup pesat dalam 10 tahun terakhir. Kampus yang semula hanya memiliki 600 mahasiswa pada era 1980-an kini telah dihuni 30 ribuan mahasiswa.

    Perkembangan pesat kampus juga bisa dilihat dari bangunan fisiknya. Selain kampus yang berdiri kokoh, UMM semasa kepemimpinan beliau juga punya toko buku, bengkel mobil, hotel, hingga SPBU. Sebelum menanggalkan jabatan rektor, Prof. Muhadjir juga meninggalkan 2 warisan monumental, yaitu rumah sakit pendidikan yang menggabungkan model pengobatan timur dan barat, serta berhasil mengakuisisi taman rekreasi kebanggaan Malang, Taman Sengkaling.

    Prof. Muhadjir juga mengajar di almamaternya, IKIP Malang pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Luar Sekolah dan juga pernah menjabat sebagai Sekertaris Pembantu Rektor III/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) IKIP Malang (1986-1990). Pada 30 September 2014, Prof Muhadjir resmi menyandang gelar Guru Besar Sosiologi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) di Universitas Negeri Malang. Karena, beliau memang dosen di UM yang mendapatkan tugas tambahan dari Koperti Wilayah VII untuk mengabdi di UMM.

    Prof. Muhadjir saat ini masih tercatat sebagi salah satu Ketua pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Sebelum menjadi ketua PP, beliau adalah wakil ketua PWM Jatim (2005-2015). Beliau juga pernah menjadi ketua Litbang Tapak Suci Putera Muhammadiyah (2006-2011) dan anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

    Sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Prof. Muhadjir mempunyai visi, salah satunya adalah meniadakan program sertifikasi bagi guru baik PNS maupun bukan PNS dikarenakan dianggap membuang-buang uang negara saja. Pelatihan guru yang memakan banyak biaya dan tidak sinkron dengan hasil yang diharapkan rencananya dihapus mulai bulan Agustus 2016 ini. Kedepan guru tidak perlu pelatihan ataupun sertifikasi lgi, karena sudah diganti dengan program baru yang disebut Resonansi Financial.

    Siapapun yang berstatus guru akan langsung diberikan tunjangan cukup dengan melampirkan tanda bukti atau surat keterangan bahwasanya ia benar-benar seorang guru maka tanpa melewati proses pelatihan ini dan itu seperti sertifikasi ataupun UKG guru tersebut namun langsung mendapatkan tunjangan profesi secara otomatis dan berkala. Luar biasa misi hebat dari bapak menteri pendidikan baru kita. Semua guru tentu semakin berbahagia dan sukses dalam profesinya, semoga terwujud.

    Sumber:
    http://news.okezone.com
    http://www.pilahberita.com
    http://www.pwmu.co
    http://www.umm.ac.id
    http://www.wavienews.com
    https://pojoksatu.id
    Continue Reading
     


    Buku memiliki peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Buku merupakan salah satu sumber bahan ajar. Ilmu pengetahuan, informasi, dan hiburan dapat diperoleh dari buku, oleh karena itu, buku merupakan komponen wajib yang harus ada di lembaga pendidikan baik lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Lembaga pendidikan merupakan tempat dilaksanakannya proses pembelajaran sebagai proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

    Buku merupakan sumber belajar yang praktis mengingat penggunaannya yang fleksibel, pemeliharaan yang murah serta ketersediannya yang mudah. Penggunaan buku tidak dibatasi waktu, tempat, maupun usia pengguna namun tetap ada ketentuan dalam penyusunan maupun penggunaannya. Hal tersebut menjadikan buku dapat digunakan sebagai sumber belajar yang tidak hanya digunakan di sekolah saja. Ada beberapa jenis buku yang dapat dipersiapkan dalam pengajaran. Salah satu dari jenis buku tersebut adalah buku teks.

    Buku teks merupakan buku yang telah ditetapkan sebagai pegangan dalam pembelajaran. Pengertian tersebut menunjukkan hendaknya buku teks sesuai dengan kurikulum pendidikan nasional dan berfungsi mendukung terbentuknya kompetensi lulusan siswa. Buku teks sebagai sumber belajar menjadi pegangan oleh karena itu penyusunannya disesuaikan dengan tujuan pengajarannya. Materi yang dimuat dalam buku teks hendaknya merupakan materi yang disusun saling berkaitan satu sama lain menjadi satu kesatuan dan tidak melenceng dari tujuan pengajaran. Buku teks mata pelajaran digunakan pada satuan pendidikan dasar dan menengah dipilih dari buku-buku teks pelajaran yang ditetapkan oleh menteri berdasarkan rekomendasi penilaian kelayakan dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Buku teks pelajaran untuk mata pelajaran muatan lokal yang digunakan pada satuan pendidikan dasar dan menengah dipilih dari buku-buku teks pelajaran yang ditetapkan oleh gubernur atau bupati/ wali kota sesuai dengan kewenangan masing-masing berpedoman pada standar buku teks pelajaran yang ditetapkan oleh menteri.

    Buku teks merupakan salah satu sumber belajar dan bahan ajar yang banyak digunakan dalam pembelajaran. Buku teks memang merupakan bahan ajar sekaligus sumber belajar bagi siswa yang konvensional. Namun meskipun konvensional dan sudah dipergunakan cukup lama dan banyak yang menganggap tradisional, buku teks pelajaran masih cukup mampu memberikan kontribusi yang baik pada pembelajaran. Beberapa materi pembelajaran tidak dapat diajarkan tanpa bantuan buku teks pelajaran.

    Sumber dan pembuat buku teks pelajaran dapat berasal dari berbagai macam. Esensi buku teks pelajaran adalah memberikan informasi dan materi kepada peserta didik melalui bahan yang berbentuk cetakan. Buku pelajaran memuat materi pelajaran ditambah dengan informasi yang relevan secara menyeluruh dan lengkap sehingga penggunaan buku teks pelajaran dapat digunakan berdampingan maupun tanpa sumber belajar atau media pembelajaran lainnya.

    Pada umumnya buku pelajaran dikeluarkan atau diterbitkan oleh penerbit-penerbit yang banyak menawarkan ke tiap-tiap institusi pendidikan. Ini menjadikan satu institusi atau sekolah satu dengan yang lainnya dapat menggunakan buku teks yang berbeda pada materi pelajaran dan tingkatan kelas yang sama. Pemerintah juga menyelenggarakan program BSE (Buku Sekolah Elektronik) dimana BSE merupakan buku teks pelajaran yang disediakan secara gratis dan dapat diunduh (download) serta disebar luaskan tanpa pelanggaran hak cipta. Penerbit yang ingin mengambil keuntungan dari buku BSE ini juga tidak diperbolehkan menetapkan harga melebihi harga maksimal yang ditentukan.

    Buku teks pelajaran merupakan bahan ajar dan sumber belajar yang mudah ditemukan dan digunakan. Setiap toko buku memiliki dan menjual buku pelajaran dengan harga yang terjangkau. Dalam penggunaan juga sangat mudah, peserta didik cukup membaca dan memahami materi yang dituangkan dalam buku tersebut, tidak perlu keterampilan khusus lain yang diperlukan untuk menggunakan buku teks pelajaran. Ini juga yang merupakan bahan cetak ini banyak digunakan.

    Sumber:
    Esti, P. 2012. Keterbacaan Wacana dalam Buku Teks Marsudi Basa lan Sastra Jawa Anyar Kelas VIII untuk Pembelajaran Sekolah Menengah Pertama, (Online). (https://core.ac.uk/display/11066339), diakses tanggal 23 Mei 2016.
    Imran, S. 2014. Fungsi, Tujuan, dan Manfaat Penggunaan Buku Teks Pelajaran dalam Pembelajaran, (Online), (http://ilmu-pendidikan.net/pustaka/buku/fungsi-tujuan-dan-manfaat-penggunaan-buku-teks-pelajaran-dalam-pembelajaran), diakses tangal 23 Mei 2016.
    Continue Reading



    Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ini adalah momentum yang sangat tepat untuk melihat refleksi pendidikan di Indonesia saat ini.

    Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Suwardi Suryaningrat), sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dan meninggal dunia pada tanggal 26 April 1959. Kancah perjuangan Ki Hadjar Dewantara meliputi dunia politik, jurnalistik, dan pendidikan. Pada dunia politik dan jurnalistik, Beliau lebih dikenal sebagai R.M. Suwardi Suryaningrat.

    Karena keanggotaannya dalam Indische Partij dan aktivitasnya yang menetang usaha-usaha perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas jajahan Perancis dengan tulisannya yang berjudul "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), maka ia diasingkan ke negeri Belanda bersama Dr. Tjipto Mangunkusumo dan E.F.E. Douwes Dekker (Danudirdjo Setyabudhi) pada tahun 1913.

    Dalam pengasingan pada tahun 1913-1919 tersebut, Beliau aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia yaitu Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di sinilah Beliau merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi. Dalam studinya ini, Beliau terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori. Beliau juga mengadakan orientasi tentang Santi Ni Setan ciptaan Tagore di India sebagai pergerakan pendidikan India.

    Sepulang dari pengangsingan, Beliau bergabung dengan suatu kelompok mistik Jawa di Yogyakarta yaitu “Gerombolan Selasa Kliwon”. Kelompok mistik ini menganggap perlu diciptakannya suau sistem pendidikan yang benar-benar bersifat pribumi (yakni yang non-pemerintah dan non-Islam).

    Setelah Taman Siswa berdiri pada tahun 1922, maka mereka membubarkan diri, karena berpendapat dengan lahirnya Taman Siswa itu terwujudlah sudah cita-cita mereka. Perjuangan Ki Hadjar Dewantara sebagai perintis pendidikan nasional diwujudkan dalam bentuk pendirian Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Mewujudkan sebuah lembaga nasional pada saat masih dalam cengkraman kekuasaan kolonial bukan saja tindakan sangat berani tetapi juga penuh resiko.

    Ki Hadjar Dewantara ingin mewujudkan sebuah sistem pendidikan nasional yang tidak untuk kepentingan kolonialisme. Tujuan utamanya ialah menanamkan jiwa merdeka bagi anak-anak bangsa pribumi. Ki Hadjar Dewantara sesungguhnya memiliki pandangan yang berbeda dengan sistem pendidikan nasional yang kita jalankan saat ini. Saat ini kita lebih banyak mencontoh dan mengacu pada sistem pendidikan negara lain. Padahal, Ki Hadjar Dewantara dahulu menginginkan sistem pendidikan kita berakar dari budaya, kebiasaan dan norma Indonesia dari Sabang sampai Merauke.





    Dengan tiada menolak apa yang asing yang berguna untuk memperkaya jiwa bangsanya, ditumpukan pendidikan pada usaha membangun jati diri bangsa. Ki R. Suharto menjelaskan jika pendidikan mengacu pada ajaran Ki Hadjar Dewantara, maka kesusksesan pendidikan tergantung dari tri pusat pendidikan, yaitu lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah. Tiga komponen itu harus mendukung satu sama lain, sinkron.


    Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, Beliau pun dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional.

    Sumber:
    _____. 2016. Melihat Nasib Pendidikan di Indonesia, (Online), (http://www.kompasiana.com/kompasiana/melihat-nasib-pendidikan-di-indonesia_5726cfdeb37a61c3043a5599), diakses pada 2 Mei 2016.
    Marfuah. S. 2016. Apakah Sudah Tepat “Hari Pendidikan Nasional” Diperingat Pada Tanggal Mei?, (Online), (http://www.kompasiana.com/www.marfuahst.com/apakah-sudah-tepat-hari-pendidikan-nasional-diperingati-pada-tanggal-2-mei_552e33436ea834cd1d8b4572), diakses pada 2 Mei 2016.
    Prabowo. 2016.  Hardiknas, Masyarakat Tak Hargai Ki Hadjar Dewantara, (Online), diakses pada 2 Mei 2016.
    Continue Reading
    Older
    Stories

    INTRO

    Photo Profile
    Edukasi Tulungagung

    Merupakan sebuah komunitas pendidikan yang ada di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur

    Follow Us on Social Media

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Press

    press

    Labels

    anies baswedan arti pendidikan bapak pendidikan beasiswa beasiswa luar negeri Beranda buku buku teks CBT direktorat jenderal dpsd dpsma dpsmk dpsmp edukasiTA Erasmus fungsi pendidikan guru guru 2016 HARDIKNAS 2016 hari guru hari guru 2016 hariguru2016 Indonesia Info Beasiswa inspirasikiTA ki hadjar dewantara kuliah lomba lombafoto lombanulis lulus SMA/MA/SMK lulusan SMA/MA/SMK makna manajemen mendikbud menurut ki hadjar dewantara MOS MOS2016 muhadjir efendi nilai dasar pendidikan karakter organisasi pemenang Pendidikan pendidikan finlandia pendidikan Indonesia pendidikan karakter pendidikan nasional pengenalan lingkungan sekolah peraturan terbaru pergantian mendikbud perguruan tinggi permendikbud nomor 18 tahun 2016 persiapan peserta pidato menteri pendidika dan kebudayaan profil proses s1 s2 s3 sekolah smk tokoh ujian nasional unbk

    recent posts

    Blog Archive

    • Juli 2019 (1)
    • Februari 2018 (1)
    • Januari 2018 (2)
    • Desember 2016 (2)
    • November 2016 (1)
    • Oktober 2016 (2)
    • Juli 2016 (1)
    • Juni 2016 (1)
    • Mei 2016 (3)
    • April 2016 (1)
    • Maret 2016 (3)
    • Februari 2016 (4)
    • Mei 2015 (1)
    • April 2015 (3)

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top